SULAWESI SELATAN
Cikal bakal berdirinya Provinsi Sulawesi Selatan diawali dengan lahirnya UU Nomor 21 Tahun 1950 tentang pembentukan Provinsi Administratif Sulawesi. Sepuluh tahun kemudian pemerintah mengeluarkan UU Nomor 47 Tahun 1960 yang mengesahkan terbentuknya Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12'–8° Lintang Selatan dan 116°48'–122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 46.717,48 km². Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat dan Laut Flores di selatan.
1. Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin adalah salah satu pahlawan dari Sulawesi yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 12 Januari 1631 dan meninggal dunia di usia 39 tahun, tepatnya pada Juli 1670. Ia merupakan putra kedua dari Sultan Malikussaid yang gigih dan berani dalam melawan penjajah Belanda pada saat itu.
2. Syekh Yusuf Tajul Khalwati
Syekh Yusuf Tajul Khalwati lahir di Gowa pada tanggal 3 Juli 1626 dan meninggal dunia di Cape Town, Afrika Selatan pada tanggal 23 Mei 1699. Ia merupakan anak angkat dari Sultan Alauddin karena ayahnya merupakan sahabat karib dari Raja Gowa. Syekh Yusuf Tajul Khalwati berasal dari keluarga bangsawan tinggi di suku bangsa Makassar dan masih berkerabat dengan para raja dari Banten, Gowa, dan juga Bone. Ia dianggap sebagai salah satu sesepuh dalam penyebaran Islam di Cape Town. Sehingga setiap tahun tanggal kematiannya, selalu diperingati secara meriah, bahkan dijuluki sebagai salah satu putra Afrika terbaik oleh Nelson Mandela.
3. Dr. G.S.S.J. Ratulangi
Dr. G.S.S.J. Ratulangi adalah pahlawan dari Sulawesi yang lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada tanggal 5 November 1890 dan meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 10 Juni 1949. Ia dimakamkan di Tondano pada usia 58 tahun. Dr. G.S.S.J. Ratulangi seringkali disebut sebagai tokoh yang multidimensi, dikenal dengan filsafatnya yang berbunyi “si tou timou tumou tou”, yang memiliki arti manusia baru bisa disebut sebagai manusia jika sudah memanusiakan manusia. Ia memperoleh pendidikan di sekolah dasar Belanda di Tonando, yakni sekolah Raja setingkat dengan SMP Tonando dan juga sekolah teknik Kononginlijke Wilhelmina School bagian Mesin di Jakarta pada 1908, ijazah dari Universitas Amsterdam pada 1915, doktor di Universitas Zurich pada 1919.
4.Maria Walanda Maramis
Maria Walanda Maramis lahir di Kema, Sulawesi Utara pada tanggal 1 Desember 1872 dan meninggal dunia di Maumbi, Sulawesi Utara pada tanggal 22 April 1924 di usia 54 tahun. Ia merupakan seorang pahlawan nasional perempuan dari Sulawesi berkat usahanya untuk meningkatkan kondisi para perempuan Indonesia pada awal abad ke-20. Maria Walanda Maramis dianggap sebagai seorang pendobrak adat dan sebagai pejuang kemajuan serta emansipasi perempuan dalam dunia politik serta pendidikan melalui tulisannya di surat kabar setempat yang bernama Tjahaja Siang di Menado.
5. Robert Wolter Monginsidi
Robert Wolter Monginsidi lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 14 Februari 1925 dan meninggal dunia di Pacinang, Makassar Sulawesi Selatan pada tanggal 5 September 1949. Ia sempat bersekolah di HIS pada 1913 dan juga MULO Don Bosco di Manado. Selain itu, Ia juga sempat terlibat dalam perjuangan melawan tentara NICA di Makassar, membentuk Laskar Pemberontakan Rakyat Indonesia Sulawesi atau LAPRIS pada tanggal 17 Juli 1946. Belanda kemudian menangkapnya pada tanggal 28 Februari 1947, Ia berhasil lolos pada 27 Oktober 1947, tapi tertangkap lagi dan dijatuhi hukuman mati. Makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar dan memperoleh Bintang Mahaputra Adipradana pada 10 November 1950 dan diberi gelar pahlawan nasional dari sulawesi pada 6 November 1973.
Dari sektor perkebunan terdapat beberapa komoditas unggulan dari daerah Sulsel yaitu cacao, vanili, tebu, karet, teh, kelapa sawit, kelapa hibrida, lada dan juga kopi.
Provinsi Sulawesi Selatan merupakan produsen utama kakao di Indonesia, dengan kontribusi sebesar 152,97 ton di 240.073 ha areal perkebunan, dengan nilai produksi sebesar Rp 4.742.132.000 pada tahun 2016. Potensi perkebunan kopi berada di Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang.

Komentar
Posting Komentar